Postingan

Perbincangan di Atas Sejadah

Gambar
Karya: Lisa Pertiwi Aku kembali dengan seribu keresahan Kekhawatiran, kebimbangan dan ketakutan Aku kembali bersujud penuh kepasrahan Aku hilang arah dalam melangkah Air mata begitu deras bercucuran Aku kembali teringat dosa-dosa dimasa laluku Yang kini seolah berubah menjadi rintik api Yang berjatuhan membakar jiwaku Sajadah sederhana yang perlahan lusuh Turut menjadi pendengar Atas penyesalan dan pengakuan yang kuucap Bersama dengan air mata yang membasahinya Kala malam kian sunyi Aku menyesali perbuatan disiang hari Aku merasa semakin bodoh Mengapa aku melakukan hal konyol seperti itu  Berdansa ria dengan iblis Mendengar bisik-bisik setan Lalu dengan mudahnya terayu olehnya Sungguh begitu tipis iman dalam diri ini Ya Rabb .... Kini usiaku tak lagi muda Namun kusadari dan aku  mengaakui Masih banyak kewajibanku yang terlewatkan Kuakui aku insan yang buruk Manusia yang cacat hati Ibadahku masih sangat-sangat buruk Tapi diri ini pun juga malas-malasan 'tuk memperba...

Gangguan Arwah Anak Tiri

Gambar
Karya: Fatimah "Jangan, aku nggak mau! Pergiiiiiiiiiiii!" teriak Santi histeris, sebelum akhirnya dia terjaga dari mimpi buruknya. "Kamu mimpi lagi?" tanya Hendra juga tidak kalah paniknya. Segera Hendra mengambil air di meja yang berada sebelah kiri tempat tidur mereka. Dengan tangan gemetar masih menahan takut, Santi mengambil gelas dari tangan suaminya dan langsung minum sampai habis.  Peluh terlihat membasahi wajah dan tubuhnya yang masih tegang. Kemudian dia memeluk erat Hendra.  "Mas, aku takut sekali." "Sudahlah itu hanya mimpi. Yuk, kita tidur lagi." ucap Hendra lembut menenangkan istrinya. *** Sudah tiga hari ini, Santi mendapatkan mimpi buruk yang sama. Dalam mimpinya, ada sesosok bayangan yang mencoba menyeret Santi secara paksa untuk mengikuti bayangan tersebut.  Bayangan itu hadir, mengingatkan pada seseorang yang tidak asing bagi Santi. Perawakannya yang sedang, dengan sorot mata yang dingin. Santi bergidik ngeri. Mungk...

I Wanna Be An Explorer

Gambar
Karya: Dewi Mulidyawati Sore hari, gemercik sungai mendayu-dayu, semilir angin membuat udara sekitar tambah sejuk dibuatnya. Kelana sedang merawat Ibunya yang terbaring lemah tak berdaya, Ibu Surti sudah dua minggu tergolek di ranjang kayu beralaskan kasur kapuk yang sederhana. Ayah sudah satu bulan lamanya belum kembali dari tugasnya mengawal seorang puteri raja bernama Sendayu. Ayah Kelana yang bernama Bapak Sakur memang seorang abdi di sebuah istana yang megah milik seorang Raja yang arif, sang Baginda Raja Kedas di kerajaan Witaru. Kelana dengan lemah lembut merawat Ibunda, sesekali ia mengompres kening wanita yang telah melahirkannya dengan susah payah itu dengan air hangat. Di samping ranjang ada meja yang penuh dengan obat-obatan herbal. Anak laki-laki yang berperawakan tinggi dan mempunyai rambut ikal tersebut memang telah memanggil seorang tabib dari desanya untuk memeriksa kondisi sang ibu. “Ibu, mari makan dahulu buburnya,” Ucap Kelana sambil memegang man...

Sisi Gelap Pemilu

Gambar
Karya: Ahmad Suhaemi ucap mengudara mencari muka meminta suara  membeli kepercayaan khalayak banyak demi pribadi yang layak ketika akhirnya jabatan dipangku memprioritaskan isi saku hingga lupa sama janji keji! di jalanan  penuh orang berlarian teriak lantang menyuarakan mencari keadilan   nahas meski rakyat meringis tangis penguasa justru menggelar pesta negeri para pendusta Bogor, 27 Januari 2023 *) Sekadar unjuk aspirasi melalui puisi, bukan maksud mengintimidasi

Lelaki Hujan

Gambar
Karya: Lencana Langit Bagiku hujan tetaplah kawan Kendati sekujur tubuh harus kuyup Kebasahan Bagiku hujan tak mungkin jadi lawan Terlebih datangnya, marah-marah tak karuan Menakutkan Pada Desember. Ia berjanji Tak ada rintik lebih syahdu Selain hujan di penghujung tahun Sayang, aku percaya begitu saja Dan lelaki hujan Selalu berhasil menertawakan Perihal deret aksara yang tak pernah berwujud buku Ah, sial! Muka Bumi, 04-12-2022

Alibi Senja

Gambar
Karya: Lencana Langit “Senja bukanlah virulen, Kawan Hanya tudung jumantara yang dapat kita kendalikan Elusif memang, tapi aku suka Dan perkara renjana, anggap saja swastamita,” Begitu kataku, lalu kau sambut dengan tawa Usai seharian tegak menantang mentari Berkawan bisikan bayu turut menyinyiri Lelah menjelma bunga rampai yang kerap terabai Juga jelaga yang dengan mudah tersapu misteri Maka biarkan, Kujamah tiap inchi merah-jinggamu yang merona tiba-tiba Tanpa perlu lagi bicara soal lengkara Kita tak akan pernah saling menjauh Bukankah berkawan tak perlu rupa cemeti dewa? Muka Bumi, 09-10-2022