Postingan

I Wanna Be An Explorer

Gambar
Karya: Dewi Mulidyawati Sore hari, gemercik sungai mendayu-dayu, semilir angin membuat udara sekitar tambah sejuk dibuatnya. Kelana sedang merawat Ibunya yang terbaring lemah tak berdaya, Ibu Surti sudah dua minggu tergolek di ranjang kayu beralaskan kasur kapuk yang sederhana. Ayah sudah satu bulan lamanya belum kembali dari tugasnya mengawal seorang puteri raja bernama Sendayu. Ayah Kelana yang bernama Bapak Sakur memang seorang abdi di sebuah istana yang megah milik seorang Raja yang arif, sang Baginda Raja Kedas di kerajaan Witaru. Kelana dengan lemah lembut merawat Ibunda, sesekali ia mengompres kening wanita yang telah melahirkannya dengan susah payah itu dengan air hangat. Di samping ranjang ada meja yang penuh dengan obat-obatan herbal. Anak laki-laki yang berperawakan tinggi dan mempunyai rambut ikal tersebut memang telah memanggil seorang tabib dari desanya untuk memeriksa kondisi sang ibu. “Ibu, mari makan dahulu buburnya,” Ucap Kelana sambil memegang man...

Sisi Gelap Pemilu

Gambar
Karya: Ahmad Suhaemi ucap mengudara mencari muka meminta suara  membeli kepercayaan khalayak banyak demi pribadi yang layak ketika akhirnya jabatan dipangku memprioritaskan isi saku hingga lupa sama janji keji! di jalanan  penuh orang berlarian teriak lantang menyuarakan mencari keadilan   nahas meski rakyat meringis tangis penguasa justru menggelar pesta negeri para pendusta Bogor, 27 Januari 2023 *) Sekadar unjuk aspirasi melalui puisi, bukan maksud mengintimidasi

Lelaki Hujan

Gambar
Karya: Lencana Langit Bagiku hujan tetaplah kawan Kendati sekujur tubuh harus kuyup Kebasahan Bagiku hujan tak mungkin jadi lawan Terlebih datangnya, marah-marah tak karuan Menakutkan Pada Desember. Ia berjanji Tak ada rintik lebih syahdu Selain hujan di penghujung tahun Sayang, aku percaya begitu saja Dan lelaki hujan Selalu berhasil menertawakan Perihal deret aksara yang tak pernah berwujud buku Ah, sial! Muka Bumi, 04-12-2022

Alibi Senja

Gambar
Karya: Lencana Langit “Senja bukanlah virulen, Kawan Hanya tudung jumantara yang dapat kita kendalikan Elusif memang, tapi aku suka Dan perkara renjana, anggap saja swastamita,” Begitu kataku, lalu kau sambut dengan tawa Usai seharian tegak menantang mentari Berkawan bisikan bayu turut menyinyiri Lelah menjelma bunga rampai yang kerap terabai Juga jelaga yang dengan mudah tersapu misteri Maka biarkan, Kujamah tiap inchi merah-jinggamu yang merona tiba-tiba Tanpa perlu lagi bicara soal lengkara Kita tak akan pernah saling menjauh Bukankah berkawan tak perlu rupa cemeti dewa? Muka Bumi, 09-10-2022