Kajian Sintaksis: Frasa dalam Pembentuk Kalimat Bahasa Indonesia pada Kehidupan Sehari-Hari
Penulis: Ahmad Suhaemi
Manusia secara fundamental merupakan
makhluk sosial yang senantiasa berusaha berinteraksi dengan individu lainnya.
Jarang sekali ada manusia yang dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.
Karena itulah, interaksi sosial memiliki peran penting. Salah satu cara utama
kita sebagai manusia berinteraksi adalah melalui penggunaan bahasa atau alat
komunikasi untuk menciptakan hubungan saling memahami antara pembicara dan
pendengar.
Jika berbicara
mengenai bahasa, maka tidak akan luput dari pembahasan mengenai tata bahasa.
Tata bahasa atau gramatikal merupakan seperangkat aturan dan struktur yang
mengatur cara kata-kata disusun dan digunakan dalam suatu bahasa untuk
menyampaikan makna yang tepat. Ini mencakup aspek-aspek seperti sintaksis,
morfologi, fonologi, dan semantik yang membentuk dasar komunikasi dalam suatu
bahasa. Adapun dalam konteks kajian ini, fokusnya adalah pada tata bahasa
bidang sintaksis. Secara keseluruhan, ilmu sintaksis merujuk pada studi tentang
kata, frasa, klausa, dan kalimat dalam bahasa.
Frasa adalah unit
linguistik yang potensialnya terdiri dari dua kata atau lebih dan memiliki
ciri-ciri klausa menurut Cook, Elson, dan Pickett dalam Tarigan (2009:57).
Sedangkan Ramlan (1996:151) menyatakan bahwa frasa adalah unit gramatikal
terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melebihi batas fungsi. Oleh karena
itu, frasa dapat disimpulkan sebagai unit tata bahasa yang terdiri dari dua
kata atau lebih, tetapi tidak melewati fungsi dasar (subjek, predikat, objek,
pelengkap, dan keterangan).
Berdasarkan
bentuknya, frasa dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis: frasa endosentris
dan frasa eksosentris. Frasa endosentris menunjukkan distribusi yang sejajar
dengan unsur-unsurnya, baik secara keseluruhan maupun pada setiap bagian
unsurnya. Sementara itu, frasa eksosentris tidak memperlihatkan distribusi yang
sesuai dengan unsur-unsurnya (Astighfarani, dkk. 2020).
Jika dikaji dari
segi kesesuaian distribusi kategori kata, maka frasa dapat dibagi menjadi lima
jenis, yaitu: frasa nomina, frasa verba, frasa adjektiva, frasa pronomina, dan
frasa numeralia menurut Depdikbud dalam Nina, M. K. Hadist (2022:33).
Berikut adalah penjabaran rinci
beserta contoh untuk masing-masing kategori frasa:
1) Frasa
Nomina
Frasa
ini terdiri dari kata-kata yang berperan sebagai kata benda atau memiliki
fungsi serupa.
Contoh:
- "Anak kecil" (kombinasi
kata benda anak dan kecil)
- "Buku novel" (frasa ini terdiri dari kata
benda buku dan novel)
2) Frasa
Verba
Frasa
ini terdiri dari kata kerja atau kata-kata yang berfungsi seperti kata kerja.
Secara morfologis unsur pusat frasa verba umumnya memiliki ciri khas afiks kata
kerja (verba).
Contoh:
- "Membaca buku" (frasa ini terdiri
dari kata kerja membaca dan kata benda buku)
- "Dia
bersedih" (frasa ini terdiri dari kata ganti dia yang menduduki
fungsi subjek (pelaku) dan kata kerja bersedih terdapat afiks ber-,
secara sintaksis dapat diberi kata sedang yang menunjukkan kata kerja
aktif)
3) Frasa
Adjektiva
Frasa
ini berfokus pada kata sifat atau kata-kata yang memberikan deskripsi kata
benda.
Contoh:
- "Kecil
sekali" (frasa ini terdiri dari kata sifat kecil dan kata
keterangan sekali)
- "Cantik dan menarik"
(kombinasi kata sifat cantik dan menarik)
4) Frasa Pronomina
Frasa ini terdiri dari kata ganti atau kata-kata yang menggantikan kata benda.
Contoh:
- "Dia
sendiri" (kombinasi kata ganti dia dan kata penegas sendiri)
- "Mereka semua" (frasa ini
terdiri dari kata ganti mereka dan kata penegas semua)
5) Frasa Numeralia
Frasa
ini mengacu pada angka atau jumlah. Sintaksisnya mengindikasikan jumlah atau
bilangan tertentu. Frasa numeralia bisa mencakup kata penunjuk bilangan seperti
'ekor', 'buah', dan sejenisnya.
Contoh:
- "Dua puluh" (kombinasi dari angka dua dan kata bilangan puluh)
- "Lima buah"
(frasa ini terdiri dari angka lima dan kata bilangan buah)
Melalui
contoh-contoh tersebut, frasa-frasa ini memperlihatkan bagaimana kombinasi
kata-kata dari kategori-kategori yang berbeda membentuk struktur kalimat yang
beragam dan bermakna.
Kemampuan untuk memahami dan menggunakan frasa secara tepat memengaruhi kemampuan kita dalam berkomunikasi. Melalui kajian sintaksis terhadap frasa-frasa dalam bahasa Indonesia, kita dapat meningkatkan pemahaman terhadap struktur kalimat dan penggunaan frasa dalam konteks sehari-hari. Dengan demikian, kajian ini membantu kita dalam menyampaikan pesan secara efektif dalam berbagai situasi komunikasi.
Sumber Referensi :
Astighfarani, dkk. (2020). “Analisis Kesalahan Penulisan Frasa Endosentris Dan
Eksosentris Pada Kolom Opini Tanjungpinang Pos Edisi April 2019.” Student
Online Journal (SOJ) UMRAH-Keguruan dan Ilmu Pendidikan 12(April 2019):
195–203.
Nina, M. K. Hadist (2022). Sintaksis Bahasa Indonesia:
Konsep Dasar dan Struktur Kalimat. Yogyakarta: Deepublish Publisher
Ramlan, M. (1996). Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis.
Yogyakarta: UP Karyono
Tarigan, H. G. (2009). Prinsip-Prinsip Dasar Sintaksis.
Bandung: Angkasa Bandung.
Komentar
Posting Komentar